Arsip Bulanan: Februari 2012

KUDUSLAH KAMU

“Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini” (1 Petrus 1:13-17).

APAKAH ALKITAB MENGATAKAN SESUATU MENGENAI KEMISKINAN DAN KESAMARATAAN ANTARA MANUSIA?

Untuk menjawab pertanyaan ini kami akan mengatakan, pertama, bahwa jika hukum-hukum Alkitab diikuti, manusia tidak akan miskin. Alkitab mengharuskan manusia itu jujur dan tidak mencuri dari orang lain, bahwa mereka bekerja keras dan tidak malas, bahwa mereka memperlakukan hamba dan orang upahan mereka dengan adil dan baik, bahwa mereka mengasihi orang lain seperti diri mereka sendiri, bahwa yang kaya memakai kekayaannya untuk menolong orang lain, bahwa semua orang memberi bantuan kepada yang memerlukan, bahwa janda dan yatim piatu diperlakukan dengan kebaikan dan kemurahan hati, bahwa para hakim menjalankan hukum dengan sama rata tanpa favoritisme. Jika hal-hal ini dan hukum-hukum Alkitab lain diikuti, maka tidak akan ada orang yang miskin di bumi. Jika Alkitab ditaati, orang miskin tidak akan ditindas oleh sesamanya. Sebagai contoh, saya baru-baru ini membaca tentang orang-orang di suatu distrik di Nepal yang banyak mati karena disentri. Bukannya mengasihani orang-orang ini dan menolong mereka, para praktisi medis mengambil keuntungan dari mereka dan menagih harga yang luar biasa tinggi untuk mengobati mereka, sehingga sebagian harus menjual tanah dan ternak mereka dan menjadi miskin papa. Pemerintahnya seolah-olah memberikan banyak uang untuk menolong orang-orang sakit, tetapi banyak dari uang itu diambil dalam perjalanan oleh orang-orang yang rakus. Para politikus lebih banyak menghabiskan uang terbang ke sana ke mari di atas helikopter untuk difoto oleh media daripada memberikan bantuan kepada yang memerlukan. Hal-hal seperti ini tidak akan terjadi jika hukum Allah diikuti, dan dunia akan menjadi tempat yang berbeda. Kedua, Alkitab mendukung hak untuk memiliki properti pribadi. Dua dari hukum Allah adalah “jangan mencuri” (Kel. 20:15) dan “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu” (Kel. 20:17). Jika salah untuk mengingini atau mencuri uang atau milik sesama kita, maka tidaklah salah untuk memiliki milik pribadi. Orang yang punya milik pribadi diharuskan untuk memakainya dengan cara yang saleh dan tidak mengabaikan keperluan sesamanya manusia, tetapi orang yang tidak punya milik pribadi tidak diperbolehkan mengambil apa yang menjadi milik sesamanya hanya karena dia miskin. Hukum Allah mengatakan bahwa jika seorang miskin mencuri, ia tetap bersalah akan suatu kejahatan dan harus dihukum (Ams. 6:30-31). Ketiga, ketika Yesus kembali dan mendirikan kerajaanNya, hukum-hukumnya yang adil akan diterapkan dan tidak akan ada lagi yang miskin. Jadi, jika kita sungguh peduli kepada yang miskin kita akan berdoa seperti Yohanes, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (Wahyu 22:20).

PUJILAH TUHAN DAN JANGAN LUPAKAN SEGALA KEBAIKANNYA

“Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Mazmur 103:1-5).

INSTITUSI BAIT SUCI SEDANG MENCARI MESIAS

Institusi Bait Suci di Yerusalem telah menghabiskan $27 juta dolar untuk mempersiapkan kedatangan Mesias. Mereka telah membuat perabotan-perabotan, termasuk sangkakala-sangkaka la perak, kandil-kandil emas, harpa, dan pakaian untuk Imam Besar yang dijahit dari benang emas. Ketika ditanya kapan Mesias akan datang, Direktur Institusi Bait Suci, Yehuda Glick menjawab, “Yang kita tahu hanyalah bahwa kita sedang hidup di zaman mujizat dan semua mujizat itu sudah diprediksikan di Buku tersebut akan terjadi pada awal akhir zaman. Bisa saja besok, bisa juga 100 tahun lagi, atau bahkan 400 tahun lagi” (“Jews Raise Millions to Be Ready for Coming of the Messiah,” Sydney Morning Herald, 14 Nov. 2009). Institusi tersebut mempekerjakan dua arsitek untuk mendesain Bait Suci yang ketiga, “sebuah bangunan modern, dengan sistem parkir mobil dan elevator, tetapi akan mirip dengan Bait Suci Kedua.” Banyak orang “Injili” yang menyumbang ke Institusi Bait Suci, tetapi sumbangan-sumbangan ini akan lebih banyak membantu Antikristus daripada bagi Kristus. Adalah Antikristus yang akan memakai bait yang dibangun oleh orang-orang Yahudi yang telah menolak Kristus. Kondisi Israel modern yang sekarang ini adalah penggenapan setengah dari nubuatan tentang tulang-tulang yang kering di Yehezkiel 37. Mereka telah kembali ke tanah mereka, tetapi tidak ada nafas kehidupan di dalam mereka (Yeh. 37:8). Mereka masih dalam pemberontakan terhadap Hukum Allah. Dalam Kesusahan Besar, orang Yahudi akan tertipu oleh janji Antikristus akan perdamaian dan akan membuat perjanjian dengannya. Bait suci akan dibangun kembali, tetapi akan menjadi baitnya Antikristus ketika ia mengumumkan dirinya sebagai Allah (Dan. 9:27; Mat. 24;15; 2 Tes. 2:3-4).

SEJARAH ISRAEL DALAM NUBUATAN

Dalam sebuah nubuat yang luar biasa yang ditulis sekitar 2700 tahun yang lalu, nabi Hosea merangkumkan ajaran nubuat Alkitab mengenai Israel. “Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala dan tiada efod dan terafim. Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya pada hari-hari yang terakhir” (Hos. 3:4-5). Karena pemberontakannya terhadap Firman Allah, bait Israel dihancurkan tahun 70 M ketika tentara Roma menghancurkan Yerusalem, dan mereka tersebar ke ujung bumi. Nubuat ini berkata bahwa kondisi ini akan berlangsung “lama,” yaitu Israel tidak memiliki bait, raja, atau imamat yang melaksanakan korban. Tetapi pada hari-hari terakhir dia akan kembali ke tanahnya dan berbalik kepada Tuhan. Rasul Paulus mengajarkan hal yang sama di Roma 11:25-27: “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.” Hal ini menjungkalkan theologi Reformed yang mengatakan bahwa gereja telah menggantikan Israel dan mewarisi perjanjian-perjanjiannya.